Tuesday, March 21, 2017

Sponge Cake Tape

Suka tape singkong? Pasti jawabannya beragam ya. Ada yang suka dan ada yang tidak. Menurut saya, tape punya rasa yang unik perpaduan antara rasa manis dan asam yang khas dan tekstur yang lembek. Saya sendiri lebih suka tape yang kering pulen dibanding yang terlalu lembek. Kemungkinan besar rasa dan tekstur tape sangat bergantung pada jenis singkong yang digunakan.

Tentang tape ini, beberapa kali saya mendapat pesanan bolu tape. Terakhir ada pesanan yang masuk dan meminta tanpa keju. Akhirnya jadilah Sponge Cake Tape polosan ini. Supaya tidak terlalu polos saya taburkan kismis di atas cakenya. Jangan berharap tekstur kue yang padat macam prol tape atau butter cake ya, yang ini lembut ringan dan berpori, selayaknya sponge cake dengan aroma tape yang tipis saja.

Sponge Cake Tape

Resep Asli : Dewi Anwar
Modif oleh : Afifah Zabarij

Bahan-bahan :
5 butir Telur Ayam
140 gr Gula Pasir
250 gr Tape Singkong Manis (saring hilangkan seratnya)
30 ml Minyak Goreng (boleh Minyak Jagung)
100 ml Santan Kental atau Susu Cair
125 gr Tepung Terigu Serbaguna
50 gr Kismis untuk taburan

Cara Membuat :

  1. Panaskan oven, oles dasar loyang menggunakan margarin, sisihkan. 
  2. Campur tape halus dengan minyak dan santan, aduk rata.
  3. Kocok telur dan gula pasir sampai kental berjejak, masukkan tepung, aduk dengan kecepatan paling rendah sampai rata. Masukkan campuran tape, aduk rata tuang ke loyang, hentakkan untuk menghilangkan gelembung udara. Taburi kismis. 
  4. Panggang sampai matang di oven 180 derajat celcius kurang lebih 25 menit. Keluarkan loyang, hentakkan supaya penyusutan berhenti. Tunggu hangat, keluarkan dari loyang. Kue siap dihidangkan.
Kali ini saya menggunakan Wonder Pan merk Bima yang saya masukkan ke Oven Tangkring saya sehingga cake mengembang sempurna. Saya sudah pernah mencoba meng-oven dengan wonderpan langsung di atas kompor dan hasilnya gosong serta tidak maksimal mengembangnya.

Selamat mencoba ya... 
Pelaihari Kalsel dan sekitarnya pemesanan silakan hubungi 081351313792 (Dapurnaila-Afifah)
***

Talam Gurih Tabur Ayam

Di dunia perkue-an, kue talam tentu sangat populer. Sebagai kue khas Indonesia, meski saya tidak tahu dari mana asalnya, namun rasanya sangat akrab di lidah. Jenisnya pun macam-macam meski talam manis jauh lebih populer daripada jenis yang gurih. Varian manis sangat luas rentangnya dari mulai talam ubi yang paling populer sampai talam labu, talam jagung dan talam coklat. Ada juga yang sempat booming yakni talam mahkota yang cantik jelita. Menurut saya talam yang ini super ribet bikinnya karena selain adonan talam harus bikin adonan kue mangkok untuk mahkotanya.
Talam Mahkota (foto diambil dari sini)

Naah, kali ini yang ingin saya perkenalkan adalah talam gurih. Jenis ini yang paling sering ditemui adalah yang toppingnya berupa abon-abon an semisal talam tabur abon ebi, abon ayam maupun abon sapi. Namun ternyata talam dengan taburan ayam juga sedap lho. Ingin membuat sendiripun caranya sangat mudah. Di negeri tetangga kita, Malaysia, kue semacam ini dikenal dengan nama Talam Berlauk namun menggunakan tepung terigu dan telur dalam pembuatannya. Untuk yang ini saya tetap menggunakan tepung beras dan tapioka (kanji) sehingga tetap memiliki ciri khas talam Indonesia, dan tapioka dalam adonan membuat kue menjadi kenyal namun tetap lembut meski sudah dingin.


Talam Gurih Tabur Ayam 
Oleh : Afifah Zabarij
Hasil : 24 potong

Bahan-bahan:
Talam
200 gr Tepung Beras Putih
100 gr Tepung Tapioka
2 sdm Gula Pasir
2 sdt Garam
200 ml Santan Instan
800 ml Air

Tumisan Ayam
300 gr Daging Ayam cincang
50 gr Bawang Merah iris tipis
30 gr Bawang Putih iris tipis
50 gr Cabe Merah iris tipis
Seledri iris tipis
2 sdm Gula Pasir
2 sdt Garam
1/2 sdt Merica Bubuk
3 sdm Minyak Goreng
100 cc Air

Cara Membuat:
  1. Tumisan ayam: Goreng bawang putih dan bawang merah sampai garing seperti membuat bawang goreng, sisihkan. Kurangi minyak goreng, tumis irisan cabe merah sampai layu dan harum. Masukkan daging ayam cincang, aduk-aduk sampai berubah warna, masukkan air dan bumbui dengan bawang goreng, gula garam dan merica bubuk, tunggu sampai air habis, cicip rasanya. Terakhir masukkan seledri, aduk rata dan matikan api. Sisihkan. Isian yang sudah dingin suhu ruang dapat disimpan dalam lemari es agar tahan lama.
  2. Panaskan kukusan, oles minyak di cetakan yang akan digunakan.
  3. Talam : Campur santan, air, gula pasir dan garam. Panaskan di atas kompor hingga hangat sambil diaduk sampai gula larut. Matikan api. Masukkan santan hangat ke dalam campuran tepung beras dan tapioka. Aduk rata sampai licin dan tidak ada gumpalan lalu saring. Sisihkan 2 sendok sayur adonan untuk merekatkan isian nanti.
  4. Aduk adonan talam, tuang ke cetakan sampai hampir penuh. Kukus selama 15 menit. Taburi ayam, tetesi dengan adonan yang sudah disisihkan tadi, kukus lagi selama 15 menit sampai matang. 
  5. Setelah 15 menit, angkat dari kukusan, biarkan sampai talam hangat, keluarkan perlahan dari cetakan dengan bantuan tusuk sate. Talam siap dihidangkan.
Catatan :
=> Pada saat merebus santan tidak perlu sampai mendidih, cukup sampai hangat saja. Saat mencampurkannya ke dalam tepung juga pada saat santan sudah hangat hampir dingin agat tepung tidak menggumpal dan matang.
=> Ingat, selalu aduk rata adonan talam sebelum menuang ke cetakan agar tidak ada endapan, kue akan menjadi keras bagian bawahnya jika tidak diaduk sebelum dicetak. Adonan juga harus disaring agar bersih dan licin serta tidak ada gumpalan tepung.

Selamat Mencoba Ya...
***






Tuesday, February 28, 2017

Yang Bisa Dipelajari Dari Asma dan Lomba-lombanya

Menjadi orang tua adalah tentang  belajar. Belajar mengenal, belajar menjaga, yang terpenting adalah belajar menerima. Apapun dan siapapun dia, lahir dan hidupnya dititipkan pada kita sebagai orang tua. Menemaninya tumbuh adalah momen belajar tanpa akkhir.


Sejak Asma masuk playgroup setahun yang lalu, praktis saya tidak pernah menemaninya di sekolah kecuali 3 hari pertama masuk sekolah. Selebihnya Ayahnya yang lebih banyak bersentuhan baik dengan urusan sekolahnya maupun dengan guru-gurunya karena pekerjaannya yang lebih fleksibel. Saya praktis hampir tidak pernah secara langsung terlibat. Meskipun tetap memantau lewat telepon dari kantor maupun sepulang kerja. 


Dulu saya pikir kesibukan sekolah hanya akan dihadapi oleh si anak saja, namun ternyata pikiran itu salah. Ibunyapun ikut sibuk. Terutama saat ada agenda-agenda tambahan seperti ketika dia terlibat dalam beberapa penampilan mewakili kelasnya maupun lomba-lomba yang dia ikuti. Lomba yang paling sering diikutinya adalah lomba mewarnai. 

Ternyata, lomba mewarnai ini pun tidak sesederhana itu. Sebaliknya cukup menjungkirbalikkan emosi saya sebagai ibunya yang selalu memandang Asma sebagai sosok anak yang paling luar biasa. Iyalah, kan saya ibu yang mengandung dan melahirkannya. Tentu dia adalah segalanya bagi saya!! 

Namun ternyata, tidak hanya Asma yang berlomba, sayapun harus berlomba dengan emosi saya dan berupaya mengalahkan ego saya. Memandang kepentingan Asma dan upaya kami untuk membuat dia tumbuh dan memupuk pribadinya agar memiliki emosi yang sehat - ini luarbiasa sulitnya. Mungkin ada diantara orang tua yang membaca tulisan saya ini  juga pernah menghadapi hal serupa(kaya banyak aja gitu yang baca... #pede). Inilah yang saya harus hadapi saat Asma ikut lomba - merupakan rangkuman dari beberapa lomba yang diikutinya :
  1. Komentar negatif orang lain. Sepanjang lomba entah bercanda atau serius banyak orang tua murid termasuk guru sekolahnya yang sibuk mengomentari Asma. Masing-masing menghampiri kami dan mengatakan bahwa Asma tidak bisa konsentrasi. Ada juga yang bilang waktu di sekolah Asma lebih baik hasil mewarnanya dibanding teman-temannya yang lain tapi pas lomba kok malah tidak selesai, tidak sempurna dan sebagainya. 
  2. Kondisi emosi dan mood anak. Sejak dari rumah saya selalu berusaha membangkitkan semangatnya dan membangun mood yang positif. Tentunya di tempat lomba hal ini malah jadi berbalik. Bertemu dengan banyak kawan maupun mendapat gangguan dari kawan yang mengajaknya mengobrol atau sebaliknya malah dia yang mengganggu kawannya. 
  3. Mengajarkan menerima hasil lomba dengan sportif. Lomba tidak selalu harus berakhir dengan kemenangan. Selama inipun Asma belum pernah memenangkan lomba mewarnai yang diikutinya. Bagi kami, kekalahan adalah sesuatu yang wajar dan Asma juga tetap harus mampu menerima hal itu.
  4. Mengutamakan kejujuran. Lomba apapun termasuk mewarnai yang terpenting adalah menjadi jujur. Jujur adalah sebuah nilai yang kami inginkan untuk selalu dipegang teguh oleh anak kami. Pun jika hasil mewarnainya tidak sebagus anak-anak lain, kami tetap mengupayakan dia mengerjakannya sendiri secara jujur. Kami menerima dengan lega hati meski tak jarang warna langit menjadi coklat alih-alih biru muda seperti lazimnya. heheheheh....

Pada lomba-lomba awal yang dia ikuti, yang terutama sangat berat sekali bagi saya untuk dihadapi adalah komentar negatif orang lain. Ujung-ujungnya saya jadi kesal sendiri dan akhirnya malah membentak Asma untuk terus konsentrasi dan mewarna. Terlebih lagi saya malah jadi frustrasi sendiri. Kondisi emosi saya yang jadi uring-uringan akhirnya malah berdampak ke mood Asma yang jadi ikut uring-uringan. Hal ini sebenarnya tentu sangat tidak baik untuknya. Jika waktu bisa diputar kembali, saya tentu akan memilih menutup telinga saya dari segala komentar negatif itu dan sebaliknya memberi dukungan sepenuhnya pada Asma apapun hasil yang didapatnya. Ini adalah penyesalan terbesar saya karena begitu mudah membandingkan anak saya dengan anak orang lain, dan begitu mudahnya terprovokasi oleh pendapat orang lain.

Setelah melalui peluh dan tangis di lomba sebelumnya, saat ini dia sudah lebih besar dan saya sepertinya juga mulai belajar. Kembali lagi pada komitmen saya dan suami bahwa kami akan mendorong dia untuk menjadi yang terbaik tanpa harus memaksa dan menekannya. Maka kami tetap mengikutkan dia di lomba-lomba sejenis. Yang terbaru adalah saat Family Gathering yang digelar kantor saya minggu lalu. Dia sudah lebih besar dan lebih mengerti bahwa dalam lomba selalu ada menang dan kalah. Dia juga tidak mau menerima bantuan dari ayahnya saat digoda "Sini ayah bantu kerjakan, biar menang..." Asma menolak keras "Kan Asma yang lomba, gak boleh dikerjakan ayah ya..." serunya sambil menatap tegas meminta persetujuan saya. Ayahnya sengaja berkata begitu untuk melihat sejauh mana dia memahami "jujur dalam berupaya" tentunya di level yang masih ringan. Alhamdulillah dia masih teguh, semoga untuk lingkup yang lebih besar nanti dia juga tetap akan mengutamakan kejujuran. Amin.

Demikian pula halnya saat ternyata kali ini dia juga kalah. Dia bertanya, kenapa dirinya kalah sedang temannya yang lain menang. Maka kamipun mencoba menjelaskan dengan bahasa yang sederhana, bahwa lomba memang ada menang dan kalah dimana saat ini dia kalah. Lalu kami tambahkan, jika dia berlatih terus maka suatu saat nanti dia pasti akan menang. Terbersit pikiran untuk menyediakan hadiah dan membuat seremoni sendiri agar terkesan menang, namun setelah dipertimbangkan lagi, saya dan ayahnya memutuskan bahwa itu tidak akan mendidik dia, dan memang konsep kalah dan menang ini harus dipahaminya dengan baik sehingga nantinya dia akan mampu mengatasi emosinya.

Nampaknya dia masih belum rela kalah, sampai pagi tadipun dia masih melontarkan pertanyaan "Ibu, kalau Asma belajar lagi nanti Asma bisa menang ya lomba mewarnainya?" Dan kamipun mengulang jawaban yang sama, InsyaAllah anakku...

***

Tuesday, November 29, 2016

Bantat Lagi, Lagi Lagi Bantat

Entah kenapa belakangan ini saya terkena kutukan bantat #naudzubillah. Terbilang 6 bulanan sudah setiap saya bikin cake selalu saja ada yang tidak sempurna. Akhirnya harus ngadonin lagi untuk mengejar tinggi cake yang diinginkan pada hasil akhir. Bahkan pada awal periode baking saat masih newbie bertahun-tahun lalu, saya hampir tidak pernah mengalami hal ini. Dan pastinya itu bikin rugi bandar alias mengurangi keuntungan. Kalo bahasa orang-orang produksi, ini namanya loss. Hiks...


Sebagai seorang baker rumahan otodidak (busyet!! panjang amat tuh gelar!) sebenarnya saya sudah menganalisa di bagian mana yang salah dan sudah ditemukan. Namun masih saja terjadi, setiap kali masih selalu mengalami kejadian yang sama pada 1 resep pertama, kemudian resep berikutnya baru bagus.

Pun demikian, selalu masih ditemukan endapan tepung di bagian bawah cake. Sehingga cake tidak mencapai tinggi yang seharusnya dan selalu ada lapisan keras seperti karet di bagian bawah. Lapisan keras layaknya karet ini selalu saya trim. Jika lapisan ini tebal maka saya harus memanggang separo atau setengah resep lagi untuk mengoreksi tinggi cake. Umumnya cake dari dapur kami memiliki tinggi sekitar 7 - 8 cm pada hasil akhir. Oleh sebab itu cake yang di-trim tersebut musti digantikan dengan selapis cake baru yang sempurna. Sebenarnya belum pernah terjadi bantat yang fatal, namun tetap saja hal ini meresahkan.

Sebenarnya ini common mistake. Saya tidak mencampur lemak ke dalam adonan dengan benar. Sehingga adonan hanya sebagian yang menjadi homogen. Alhasil, tepung dan lemak berikatan dan membentuk formasi untuk terjun bebas ke dasar loyang. Sungguh menyakitkan hati :((

Nampaknya ada dua pilihan yang bisa saya ambil. 1. Berhenti baking sampai dengan waktu yang tidak ditentukan (tak sanggup membayangkan koin-koin yang melayang... hiks). 2. Sit back, relax, contemplate => Merenungkan apa salah dan dosa saya sampai harus tertimpa keadaan yang merugikan sekaligus memalukan ini.

But yet, sebenarnya ada trik-trik yang saya lakukan untuk memastikan sponge cake saya sempurna. Sampai saat ini saya masih menggunakannya, mungkin ini juga yang membuat cake saya meski tidak sempurna namun juga nggak bantat bantat amat lah....

Tips:

  1. ALAT : Pastikan peralatan mengocok benar-benar bebas lemak. Saya biasanya menyemprotkan larutan cuka dan air lalu melap kering peralatan. Cuka bisa diganti air jeruk nipis atau air lemon. Ada juga baker yang membilas dengan air panas, namun saya kurang suka dengan cara ini.
  2. BAHAN => TELUR : Pastikan telur yang digunakan adalah telur yang segar. Beberapa orang tidak menyarankan telur dingin dari kulkas, namun saya sering menggunakannya langsung dalam keadaan dingin dan tidak masalah. Jika waktu saya tidak banyak, saya sering menghangatkan telur dan gula yang akan dikocok dengan cara double boiler. Wadah berisi telur dan gula diletakkan di atas panci berisi air panas lalu kacau sampai gula larut dan telur menjadi hangat kuku menggunakan whisk atau garpu - baru kemudian dikocok menggunakan mixer. Adonan lebih cepat naik dan kental dengan telur yang hangat.
  3. BAHAN => BAHAN KERING : Pastikan semua dry ingredients diayak. jika perlu lakukan proses pengayakan 2 sampai 3 kali. Tepung, cokelat bubuk, maizena, baking powder, soda kue, susu bubuk dan sebagainya berpotensi menggumpal karena tingkat kelembaban yang terkandung di dalamnya. Mengayak juga akan memudahkan saat proses pencampuran. Bahan yang diayak dengan baik juga dapat meningkatkan tekstur kue menjadi lembut.
  4. BAHAN => LEMAK : Pastikan semua jenis lemak tercampur dengan sempurna dan homogen. Baik berupa margarin, mentega (leleh maupun kocok), minyak goreng dan sejenisnya sangat mudah sekali berikatan dengan tepung dan menyebabkan cake menjadi bantat. 
  5. SUHU : Pada saat memanggang perhatikan pengaturan suhu yang pas sehingga cake mengembang dan matang sempurna. Kenali oven dan kompor dengan baik. 
Point ke 4 diatas adalah major cause dari kegagalan yang saya alami belakangan ini. Saya sudah mencoba berbagai cara dari mulai memindah tempat mencampur lemak, menggunakan mixer kecepatan rendah, menggunakan teknik aduk balik, teknik pancing, teknik tang mian dan masih belum menghasilkan cake sempurna.

So sebenarnya posting ini hanya curhatan saya. Meskipun demikian kesemuanya tips dan trik tetap saya terapkan dan setidaknya masih mampu menyelamatkan saya. Sampai sekarang belum pernah terjadi kocokan telur yang gagal mengembang ataupun tepung yang tidak tercampur rata. Jika tentang  proses pencampuran lemak, sepertinya saya benar benar akan memohon hidayah dari Allah SWT karena bayangan kehilangan koin pada pilihan pertama sunggu berat untuk dihadapi >_<  #dilemabakulmatre. Hihihihi...

Semoga postingan ini membantu siapapun yang membaca sehingga bisa mengantisipasi resiko terjadinya bantat pada cake (macam judul makalah -_-). Jangan takut mencoba ya, karena membuat kue sebenarnya mengasikkan dan menguntungkan (tetep motifnya duit -_-! )

****


Wednesday, September 14, 2016

Kompetisi Membawa Hoki (Menang Lomba Judulnya...)

Ada saat-saat dimana saya merasa malas sekali melakukan apapun di tempat saya bekerja (semoga si boss ndak baca post ini .... *_*). Ups and Downs ini lumayan sering terjadi. Menurut analisa saya, sepertinya hanya karena kebosanan. Bosan sama kerjaan bukan sama duitnya. Hahahahha.... Oleh sebab itu, kebosanan ini harus segera disingkirkan, sebelum performance menurun dan duitnya ikutan enyah. Takuuuutttt... >_<

Donor Darah Hari K3 2016
Saya bekerja di sebuah perusahaan asing yang seru. Sepanjang tahun selalu ada agenda heboh yang diadakan. Tentunya yang berkaitan dengan penanaman budaya perusahaan (corporate culture internalization) maupun perayaan hari-hari besar seperti HUT Republik Indonesia, Hari K3, Hari Lingkungan Hidup dan sebagainya. Dengan berpartisipasi baik sebagai panitia maupun sebagai peserta lumayan memberi angin segar dan mengurangi kebosanan di kantor.



Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Menimbang Sampah Kertas yang akan didaur ulang dalam Big Cleaning Day 2015

Banyak diantara event-event tersebut yang diramaikan lomba-lomba maupun kompetisi. Sayapun pernah juga menjadi pemenang kompetisi yang diadakan. Yang terbaru, saya memenangkan kompetisi Suvenir Banpu Spirit 2016. Tumbler double wall dengan insert paper yang saya ikutkan, keluar sebagai juara. Sayangnya desain masih kurang nendang, terlalu girly menurut dewan juri. Iyalah pastinya... wong yang bikin aja imut begini kan... Hahahahaha...


Ini dia karya saya yang menang di 2016

Tahun ini adalah kali ke 2 saya ikut kompetisi Suvenir Banpu Spirit. Tahun kemarin 2015 saya juga memenangkannya bersama dengan 2 rekan yang lain (peserta cuma 3, jiaaaahhh). Yang saya kirimkan handuk berbordir logo perusahaan. Sedangkan rekan lain masing masing botol minum dan mug bertutup yang ditempel stiker logo perusahaan. Tupperware punya, kualitas bagus lah itu. Jadilah hamper berisi suvenir ini dibagikan ke seluruh karyawan.


Sejujurnya, saya adalah orang yang tidak terlalu suka berkompetisi karena saya tidak suka kalah. Meskipun sebenarnya saat berproses dalam mempersiapkan kompetisi itu sangatlah nikmat. Ini juga berkah terselubung, dulunya saat saya masih di department lama dan memegang job culture internalization praktis saya tidak bisa ikut segala kompetisi yang diadakan. Setelah pindah department malah saya jadi sering ikutan. Asyik juga ya...

Dari sini saya jadi dapat ide untuk membuka lini baru usaha suvenir. Semua yang jadi duit halal LAKUKAN!!



Sunday, September 4, 2016

Masih Tentang Cake

Sesuai judul, masih tentang cake yang sempat disiapkan dalam minggu-minggu terakhir ini. Semoga bisa menjadi referensi atau malah berminat memesan... Hehehehhe....






Dapat dilihat memang rata-rata desainnya sama. Dan jika boleh jujur, basecake nya juga sama. Sponge cake cokelat 3 atau empat lembar yang sudah dilembabkan dengan symple syrup, diisi dengan butter cream dari shortening dan margarin yang dipadu dengan selai stroberi.

Pada dasarnya memang karena saya lebih fokus pada rasanya ddibanding pada penampilannya. (ini ngeles aja sih sebenernya. hehehehhe...).

Saya punya customer yang tidak terlalu rewel dan sangat jarang menerima pesanan untuk ultah anak-anak. Akhirnya dimanjakanlah bakulnya dan terlena dengan segala desain kue yang tampil apa-adanya ini. Pager coklat saya buat menggunakan cetakan, serutan cokelat saya serut dengan menggunakan parutan kasar (seperti parut keju dengan lubang lebih besar). Jika tidak menggunakan buah segar, saya menambahkan ceri merah bertangkai sebagai pemanis.

Untuk harga, kue utuh ini saya jual pada kisaran Rp. 110,000 sampai Rp. 250,000. Jika berbeda basecake, berbeda lagi harganya. 

Kue-kue dengan desain elegan meski sederhana ini paling lambat satu minggu sebelumnya. Namun saya juga sering menerima pesanan semalam sebelumnya, resikonya ya itu, topping cokelat pagar saja...

Bahan yang digunakan dipilih dari yang berkualitas dan berlabel halal, insya Allah.
Untuk pemesanan silakan hubungi Afifah (081351313792).  



Monday, August 29, 2016

Old to Be New

Hanya ingin menyimpan polah si Gendhuk di blog. Ini tentang mesin jahit baru yang kemarin dibeli.



Suatu kali ipar saya mendapat tugas mengawal anak muridnya karyawisata ke Bali. Tak dinyana, sepulang dari Bali saya dibawakan sebuah daster berbahan shantung dengan potongan umbrella. Sedangkan Gendhuk mendapat sebuah rok dan sebuah short batik khas Bali. Sedaaaap sekali dipakai. Saking sedapnya, itu daster menyandang status 'Mbah Ringgo' alias Diumbah - Garing - Dianggo (cuci-kering-pakai). Akhirnya bolong deh keteknya, bolong juga merambat ke bagian-bagian lain. Belum lagi potongan bawahnya yang lebar bak payung membuat dia hampir selalu terinjak atau terduduki sehingga membuat bagian atasnya tertarik dan robek.

Normalnya, jika sudah tak layak pastilah jadi kain pel. Namun karna sayang, akhirnya simbok putar otak. Daster dipotong di dadanya, dibuat keliman lebar untuk memasukkan pita. Jadilah 'Pillowcase' dress ala ala simbok dari payung genit bagian bawah daster. Berdayaguna pulalah Mas Janome yang kinyis-kinyis di pojokan.

Si Gendhuk yang Excited mencoba dress baru meski masih berbaju lengkap
Setelah ini jahit apa lagi ya....?