Tuesday, November 29, 2016

Bantat Lagi, Lagi Lagi Bantat

Entah kenapa belakangan ini saya terkena kutukan bantat #naudzubillah. Terbilang 6 bulanan sudah setiap saya bikin cake selalu saja ada yang tidak sempurna. Akhirnya harus ngadonin lagi untuk mengejar tinggi cake yang diinginkan pada hasil akhir. Bahkan pada awal periode baking saat masih newbie bertahun-tahun lalu, saya hampir tidak pernah mengalami hal ini. Dan pastinya itu bikin rugi bandar alias mengurangi keuntungan. Kalo bahasa orang-orang produksi, ini namanya loss. Hiks...


Sebagai seorang baker rumahan otodidak (busyet!! panjang amat tuh gelar!) sebenarnya saya sudah menganalisa di bagian mana yang salah dan sudah ditemukan. Namun masih saja terjadi, setiap kali masih selalu mengalami kejadian yang sama pada 1 resep pertama, kemudian resep berikutnya baru bagus.

Pun demikian, selalu masih ditemukan endapan tepung di bagian bawah cake. Sehingga cake tidak mencapai tinggi yang seharusnya dan selalu ada lapisan keras seperti karet di bagian bawah. Lapisan keras layaknya karet ini selalu saya trim. Jika lapisan ini tebal maka saya harus memanggang separo atau setengah resep lagi untuk mengoreksi tinggi cake. Umumnya cake dari dapur kami memiliki tinggi sekitar 7 - 8 cm pada hasil akhir. Oleh sebab itu cake yang di-trim tersebut musti digantikan dengan selapis cake baru yang sempurna. Sebenarnya belum pernah terjadi bantat yang fatal, namun tetap saja hal ini meresahkan.

Sebenarnya ini common mistake. Saya tidak mencampur lemak ke dalam adonan dengan benar. Sehingga adonan hanya sebagian yang menjadi homogen. Alhasil, tepung dan lemak berikatan dan membentuk formasi untuk terjun bebas ke dasar loyang. Sungguh menyakitkan hati :((

Nampaknya ada dua pilihan yang bisa saya ambil. 1. Berhenti baking sampai dengan waktu yang tidak ditentukan (tak sanggup membayangkan koin-koin yang melayang... hiks). 2. Sit back, relax, contemplate => Merenungkan apa salah dan dosa saya sampai harus tertimpa keadaan yang merugikan sekaligus memalukan ini.

But yet, sebenarnya ada trik-trik yang saya lakukan untuk memastikan sponge cake saya sempurna. Sampai saat ini saya masih menggunakannya, mungkin ini juga yang membuat cake saya meski tidak sempurna namun juga nggak bantat bantat amat lah....

Tips:

  1. ALAT : Pastikan peralatan mengocok benar-benar bebas lemak. Saya biasanya menyemprotkan larutan cuka dan air lalu melap kering peralatan. Cuka bisa diganti air jeruk nipis atau air lemon. Ada juga baker yang membilas dengan air panas, namun saya kurang suka dengan cara ini.
  2. BAHAN => TELUR : Pastikan telur yang digunakan adalah telur yang segar. Beberapa orang tidak menyarankan telur dingin dari kulkas, namun saya sering menggunakannya langsung dalam keadaan dingin dan tidak masalah. Jika waktu saya tidak banyak, saya sering menghangatkan telur dan gula yang akan dikocok dengan cara double boiler. Wadah berisi telur dan gula diletakkan di atas panci berisi air panas lalu kacau sampai gula larut dan telur menjadi hangat kuku menggunakan whisk atau garpu - baru kemudian dikocok menggunakan mixer. Adonan lebih cepat naik dan kental dengan telur yang hangat.
  3. BAHAN => BAHAN KERING : Pastikan semua dry ingredients diayak. jika perlu lakukan proses pengayakan 2 sampai 3 kali. Tepung, cokelat bubuk, maizena, baking powder, soda kue, susu bubuk dan sebagainya berpotensi menggumpal karena tingkat kelembaban yang terkandung di dalamnya. Mengayak juga akan memudahkan saat proses pencampuran. Bahan yang diayak dengan baik juga dapat meningkatkan tekstur kue menjadi lembut.
  4. BAHAN => LEMAK : Pastikan semua jenis lemak tercampur dengan sempurna dan homogen. Baik berupa margarin, mentega (leleh maupun kocok), minyak goreng dan sejenisnya sangat mudah sekali berikatan dengan tepung dan menyebabkan cake menjadi bantat. 
  5. SUHU : Pada saat memanggang perhatikan pengaturan suhu yang pas sehingga cake mengembang dan matang sempurna. Kenali oven dan kompor dengan baik. 
Point ke 4 diatas adalah major cause dari kegagalan yang saya alami belakangan ini. Saya sudah mencoba berbagai cara dari mulai memindah tempat mencampur lemak, menggunakan mixer kecepatan rendah, menggunakan teknik aduk balik, teknik pancing, teknik tang mian dan masih belum menghasilkan cake sempurna.

So sebenarnya posting ini hanya curhatan saya. Meskipun demikian kesemuanya tips dan trik tetap saya terapkan dan setidaknya masih mampu menyelamatkan saya. Sampai sekarang belum pernah terjadi kocokan telur yang gagal mengembang ataupun tepung yang tidak tercampur rata. Jika tentang  proses pencampuran lemak, sepertinya saya benar benar akan memohon hidayah dari Allah SWT karena bayangan kehilangan koin pada pilihan pertama sunggu berat untuk dihadapi >_<  #dilemabakulmatre. Hihihihi...

Semoga postingan ini membantu siapapun yang membaca sehingga bisa mengantisipasi resiko terjadinya bantat pada cake (macam judul makalah -_-). Jangan takut mencoba ya, karena membuat kue sebenarnya mengasikkan dan menguntungkan (tetep motifnya duit -_-! )

****


Wednesday, September 14, 2016

Kompetisi Membawa Hoki (Menang Lomba Judulnya...)

Ada saat-saat dimana saya merasa malas sekali melakukan apapun di tempat saya bekerja (semoga si boss ndak baca post ini .... *_*). Ups and Downs ini lumayan sering terjadi. Menurut analisa saya, sepertinya hanya karena kebosanan. Bosan sama kerjaan bukan sama duitnya. Hahahahha.... Oleh sebab itu, kebosanan ini harus segera disingkirkan, sebelum performance menurun dan duitnya ikutan enyah. Takuuuutttt... >_<

Donor Darah Hari K3 2016
Saya bekerja di sebuah perusahaan asing yang seru. Sepanjang tahun selalu ada agenda heboh yang diadakan. Tentunya yang berkaitan dengan penanaman budaya perusahaan (corporate culture internalization) maupun perayaan hari-hari besar seperti HUT Republik Indonesia, Hari K3, Hari Lingkungan Hidup dan sebagainya. Dengan berpartisipasi baik sebagai panitia maupun sebagai peserta lumayan memberi angin segar dan mengurangi kebosanan di kantor.



Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Menimbang Sampah Kertas yang akan didaur ulang dalam Big Cleaning Day 2015

Banyak diantara event-event tersebut yang diramaikan lomba-lomba maupun kompetisi. Sayapun pernah juga menjadi pemenang kompetisi yang diadakan. Yang terbaru, saya memenangkan kompetisi Suvenir Banpu Spirit 2016. Tumbler double wall dengan insert paper yang saya ikutkan, keluar sebagai juara. Sayangnya desain masih kurang nendang, terlalu girly menurut dewan juri. Iyalah pastinya... wong yang bikin aja imut begini kan... Hahahahaha...


Ini dia karya saya yang menang di 2016

Tahun ini adalah kali ke 2 saya ikut kompetisi Suvenir Banpu Spirit. Tahun kemarin 2015 saya juga memenangkannya bersama dengan 2 rekan yang lain (peserta cuma 3, jiaaaahhh). Yang saya kirimkan handuk berbordir logo perusahaan. Sedangkan rekan lain masing masing botol minum dan mug bertutup yang ditempel stiker logo perusahaan. Tupperware punya, kualitas bagus lah itu. Jadilah hamper berisi suvenir ini dibagikan ke seluruh karyawan.


Sejujurnya, saya adalah orang yang tidak terlalu suka berkompetisi karena saya tidak suka kalah. Meskipun sebenarnya saat berproses dalam mempersiapkan kompetisi itu sangatlah nikmat. Ini juga berkah terselubung, dulunya saat saya masih di department lama dan memegang job culture internalization praktis saya tidak bisa ikut segala kompetisi yang diadakan. Setelah pindah department malah saya jadi sering ikutan. Asyik juga ya...

Dari sini saya jadi dapat ide untuk membuka lini baru usaha suvenir. Semua yang jadi duit halal LAKUKAN!!



Sunday, September 4, 2016

Masih Tentang Cake

Sesuai judul, masih tentang cake yang sempat disiapkan dalam minggu-minggu terakhir ini. Semoga bisa menjadi referensi atau malah berminat memesan... Hehehehhe....






Dapat dilihat memang rata-rata desainnya sama. Dan jika boleh jujur, basecake nya juga sama. Sponge cake cokelat 3 atau empat lembar yang sudah dilembabkan dengan symple syrup, diisi dengan butter cream dari shortening dan margarin yang dipadu dengan selai stroberi.

Pada dasarnya memang karena saya lebih fokus pada rasanya ddibanding pada penampilannya. (ini ngeles aja sih sebenernya. hehehehhe...).

Saya punya customer yang tidak terlalu rewel dan sangat jarang menerima pesanan untuk ultah anak-anak. Akhirnya dimanjakanlah bakulnya dan terlena dengan segala desain kue yang tampil apa-adanya ini. Pager coklat saya buat menggunakan cetakan, serutan cokelat saya serut dengan menggunakan parutan kasar (seperti parut keju dengan lubang lebih besar). Jika tidak menggunakan buah segar, saya menambahkan ceri merah bertangkai sebagai pemanis.

Untuk harga, kue utuh ini saya jual pada kisaran Rp. 110,000 sampai Rp. 250,000. Jika berbeda basecake, berbeda lagi harganya. 

Kue-kue dengan desain elegan meski sederhana ini paling lambat satu minggu sebelumnya. Namun saya juga sering menerima pesanan semalam sebelumnya, resikonya ya itu, topping cokelat pagar saja...

Bahan yang digunakan dipilih dari yang berkualitas dan berlabel halal, insya Allah.
Untuk pemesanan silakan hubungi Afifah (081351313792).  



Monday, August 29, 2016

Old to Be New

Hanya ingin menyimpan polah si Gendhuk di blog. Ini tentang mesin jahit baru yang kemarin dibeli.



Suatu kali ipar saya mendapat tugas mengawal anak muridnya karyawisata ke Bali. Tak dinyana, sepulang dari Bali saya dibawakan sebuah daster berbahan shantung dengan potongan umbrella. Sedangkan Gendhuk mendapat sebuah rok dan sebuah short batik khas Bali. Sedaaaap sekali dipakai. Saking sedapnya, itu daster menyandang status 'Mbah Ringgo' alias Diumbah - Garing - Dianggo (cuci-kering-pakai). Akhirnya bolong deh keteknya, bolong juga merambat ke bagian-bagian lain. Belum lagi potongan bawahnya yang lebar bak payung membuat dia hampir selalu terinjak atau terduduki sehingga membuat bagian atasnya tertarik dan robek.

Normalnya, jika sudah tak layak pastilah jadi kain pel. Namun karna sayang, akhirnya simbok putar otak. Daster dipotong di dadanya, dibuat keliman lebar untuk memasukkan pita. Jadilah 'Pillowcase' dress ala ala simbok dari payung genit bagian bawah daster. Berdayaguna pulalah Mas Janome yang kinyis-kinyis di pojokan.

Si Gendhuk yang Excited mencoba dress baru meski masih berbaju lengkap
Setelah ini jahit apa lagi ya....?








Monday, December 7, 2015

Skotel Potong (Slice Mac & Cheese) versi Ekonomis.

Sayang sekali yang satu ini belum ada fotonya. Namun, tidak mengurangi tekad untuk berbagi dan sekaligus dokumentasi resep, maka post ini saya tulis di blog yang sudah penuh sarang laba-laba ini (saking jarangnya dibuka).
Skotel Potong Siap Dijadikan Pengisi Snack Box

Setiap orderan snack box datang dalam jumlah hari yang lebih dari 2 hari berturut-turut dalam satu order, saya hampir selalu bingung menyiapkan snack asin nya. Mungkin ini kebingungan pemula saja ya. Dengan segala keterbatasan saya, saat ini saya coba berbagi, siapa tahu bisa membantu sesama pemula di luar sana terutama untuk ide snack asin. Dibanding Macaroni Schotel harganya yang ekonomis, membuatnya praktis dan jadinya lumayan banyak membuat snack ini cocok untuk jadi dagangan bakul kue. Resep saya tanpa kaldu instan atau tambahan MSG apapun ya... Silakan saja jika anda memilih menggunakannya.

Skotel Potong (Mac & Cheese) versi Ekonomis

Resep : Afifah

Bahan-bahan
400 gr makaroni elbow
Air secukupnya untuk merebus makaroni
Minyak goreng

4 sdm margarin
7 siung bawang merah iris (boleh diganti atau ditambahkan dengan bawang bombay cincang 1 buah)
150 gr daging ayam potong dadu kecil
250 gr wortel potong dadu kecil
3 btg sosis sapi potong dadu kecil
108 gr susu bubuk
1 lt air (Jika menggunakan susu cair mis. Ultra, skip penggunaan susu bubuk. Sisihkan sebagian untuk melarutkan tepung terigu).
200 gr tepung terigu
100 gr keju parut (parut, sisihkan 25 gr)
4 btr telur
Garam
Gula Pasir
Pala bubuk (pala diparut)
Lada putih bubuk

Cara Membuat
  • Rebus makaroni hingga matang namun jangan terlalu lunak. Tiriskan, beri sedikit minyak goreng agar tidak lengket. Siapkan loyang uk 25*30*4 cm, lapisi dengan kertas roti & oles margarin.
  • Dalam wajan atau panci, lelehkan margarin, masukkan bawang iris, tumis hingga layu dan harum. Masukkan daging ayam dan wortel, tumis sampai ayam berubah warna.
  • Masukkan susu bubuk dan sebagian air, masak sampai wortel setengah matang. Tambahkan sisa air, 25 gr keju parut dan larutan terigu, bumbui dengan garam, gula, lada dan pala. Masukkan makaroni rebus, aduk rata, matikan api.
  • Masukkan telur, aduk rata, tuang ke dalam loyang, ratakan dan taburi sisa keju parut. Panaskan oven 180 derajat. Panggang sampai matang sekitar 30 - 45 menit tergantung ovennya. Bisa lakukan tes tusuk, tusuk sate yang digunakan tetap akan ada adonan yang menempel, cicipi, jika sudah kalis saat disentuh dan tidak terasa amis lagi maka skotel sudah matang.
  • Tunggu hangat, balikkan di atas loyang, biarkan dingin lalu potong-potong. Jika terlalu panas maka skotel akan ambyar saat dipotong. Hidangkan dg sambal botol/siap diisikan ke box untuk snack. Satu resep bisa dipotong menjadi 35 sampai 40 potong sesuai selera.
==> Update : Makaroni dapat diganti dengan Mi kriting atau Bihun. Jika dibalur dengan tepung panir dan digoreng juga sedap.

Tuesday, September 1, 2015

One That We (I) Can't Live Without

Belakangan marak tulisan yang beredar khususnya tentang gaya hidup yang menyerukan berbagai hal. Mulai dari himbauan anti rokok, anti junk food, anti hutang bahkan sampai anti miskin. Anti-anti yang lain termasuk anti nonton TV yang konon dikatakan oleh banyak 'ahli' sebagai perusak generasi nomor satu.

Banyak di antara anti-anti itu yang telah berhasil saya praktekkan, atau saat ini sedang saya usahakan untuk terwujud. Namun satu hal yang sepertinya saya tak mampu meninggalkannya yaitu the all mighty INTERNET. Hayoooo pada ngaku, siapa yang mampu lawan internet? Bisakah hidup kita jauh dari internet dan segala hal yang berkaitan dengannya?

Internet atau interconnection networking bahasa Indonesianya kurang lebih jaringan antar koneksi atau antar hubungan. Jaringan komputer  yang saling terhubung inilah yang kita kenal sebagai internet. Silakan browsing link-link tersebut ya.

Sebenarnya saya bukan ingin membahas internet, alih-alih saya hanya ingin berbagi apa-apa saya yang selalu saya lakukan selama ini di jaringan maha sakti ini. Saya mengenalnya sejak masih belia, akrabnya saya dengan MTV dan saluran televisi luar sejenis yang saat itu ditangkap lewat parabola yang dipasang oleh bapak di rumah. Internet yang saat itu masih diakses dengan dial up saya kenal bersamaan dengan telex dan fax yang biasa dipergunakan untuk mengirim berita (bapak saya jurnalis, menggunakan fasilitas tersebut untuk mengirim berita). VSat adalah istilah canggih selanjutnya yang saya kenal setelah magang di sebuah kantor berita pada akhir masa kuliah saya - sama juga, dipergunakan untuk mengirim berita real time. Setelah bekerja di sebuah perusahaan tambang di pinggiran Kalimantan Selatan, VSat ini dipergunakan untuk sambungan telepon, intranet dan lagi-lagi internet.

Sepanjang saya hidup, setelah kuliah saya mulai dekat dan akhirnya bersahabat dengan salah seorang teman sekelas saya. Dialah yang awalnya membawa MIRC ke dalam hidup saya. Fasilitas ngobrol atau chat room yang satu ini rada jadul, dengan tampilan layar hitam pekat dan tulisan yang bisa diganti-ganti warnanya. Dari situ saya dapat banyak teman, meskipun tidak ada yang sampai bertahan lama. Masih tentang chatting, ada YM atau Yahoo Messenger yang ini masih  saya gunakan sampai sekarang.

Saya sempat pula bekerja sebagai content contributor dan editor untuk sebuah web komunitas. band1t.com namanya. Saat saya masih bergabung di dalamnya, web ini sempat booming di Jogja, dan menjadi komunitas online yang cukup dikenal bahkan bekerjasama dengan sebuah radio. Slot siaran mingguan ini biasa menghadirkan tamu band lokal, music chart, highlight liputan yang tayang di webnya dan sebagainya. Bergabungnya saya dengan web ini membuat saya masuk ke dunia lain, dunia kreatif dan hiburan di Jogja. Iyalah, wong yang punya konon Mas Sabrang Letto. Sekarang band1t sepertinya sudah tidak ada lagi, kecuali web lain yang masih dalam satu keluarga yaitu www.padhangmbulan.com maupun www.caknun.com. Sungguh suatu kehormatan bisa mengenal dan menjadi bagian kecil dari komunitas sebesar itu.

Ini dia profil Cookpad saya

Kembali ke dunia nyata, hari ini saya menggunakan internet mostly untuk mencari inspirasi (baca : nyontek resep masakan & kue orang *tutupmukapakewajan). Selain itu juga untuk nyampah di blog berbagi inspirasi. Diantaranya saya bergabung dengan beberapa medsos, karena sekarang suka masak dan bikin kue, ya medsos cooking lah ya yang disatronin. Disamping itu, saya juga join milis bakul kue alias culinary entrepreneur paling hot se Indonesia yaitu NCC alias Natural Cooking Club.
Kering Kentang Yang Termasyur

Selain di dua tempat itu, saya juga punya lapak di tokopedia. Mari-mari pada belanja di lapak saya.... >_<

Awal saya buka lapak di sana sempat shock, karena saat say browsing ternyata salah satu foto hasil karya saya mejeng di lapak orang lain alias dipinjam tanpa ijin. Jujur sampai saat ini saya masih tidak memahami perasaan saya yang terdalam, jjiiaaahh!!! Apakah saya harus sedih dan marah karena penggunaan tanpa ijin ini ataukah saya harus hepi karena foto asal saya yang super plain itu ditaksir dan ditempel di lapak orang lain. Sempat saya share ini ke milis NCC, dan satu respon yang diberikan oleh seorang anggota, yang juga menyuarakan pikiran saya, bahwa semakin plain (sederhana) fotonya, maka semakin tampak homemade lah produk itu. Hahahahahha. Pelajarannya, jangan malas kasih watermark ya!!!

Not to mention blog ini, dapurnaila.blogspot.com yang meski nampak sepi dari komen dan kunjungan tapi ternyata telah berhasil membuat saya punya pelanggan dari beberapa propinsi di luar Kalsel. Semoga nanti blog ini semakin guyub  dan pelanggan saya semakin banyak. Amiiiinnn.... 
 
Dalam perjalanan saya, banyak juga ternyata pengguna internet yang berbagi hal baik (jauuh lebih baik daripada yang saya bagi). Sering saya berkunjung ke blog milik Mbak Endang yang solusi krimcis homemadenya menyelamatkan hidup saya.-semoga menjadi jariyah. Mbak Endang menuangkan di tulisan dan karya yang menurut saya ramah sekali bagi yang tidak pintar memasak seperti saya. Kecerdasan beliau menyajikan tulisan dan step yang rinci membuat resep yang ribet sekalipun jadi terkesan mudah untuk diwujudkan. Satu lagi, beliau juga interaktif, komen yang muncul direspon dengan manis dan friendly.

Endang Indriani - Homemade Creamcheese
Gak ada yang jual krimcis? Bikin sendiri aja.

Juga ada Ibu Azlita Aziz yang humble dan telateeeeen banget bikin deco kue cantik namun sekaligus gak pelit ilmu. Karya saya tentunya gak sebanding dengan Ibu Azlita. Meski demikian, tetap saja ilmu yang dibagikan sangat berguna buat awam macam saya ini. Semoga ilmu yang dibagikan menjadi amal jariyah. 

Azlita Aziz - korean-flower-buttercream.html
Kebayang gak bikin kue canteeek macam ini...??

Untuk  Korean Food, saya suka berkunjung ke Maangchi. Beberapa resepnya sudah saya praktekkan. Terutama si Yangnyeom Tongdak ini. Sedaaaaaap....

Yangnyeom Tongdak karya Maangchi
Dan baaannyak lagi pendekar internet yang sering saya sowan ketika sedang online selain kunjungan wajib ke portal-portal berita dan kapanlagi.com. Hehehhehe....

Lagi-lagi, nampaknya himbauan para pakar untuk menjauhi internet nampak musykil, meski dengan alasan yang medioker yakni mati gaya tanpamu. Jadi, internet ditahbiskan menjadi sesuatu yang tak mungkin saya berpaling darinya. Segala sesuatu tentu ada baik dan buruknya bukan? Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Internet pun begitu, jika kita manfaatkan untuk tujuan baik tentu hasilnya juga baik (atau dalam kasus saya, hasilnya antara 2, kenyang karena berhasil mengeksekusi resep, atau ngiler karena foto-foto masakan menggugah selera).

***

Sunday, April 19, 2015

Jangan Dibeli!! Produk DN Keterlaluan Mahalnya...

Astaghfirullah..... Ampunkan semua segala kesalahan yang hamba buat ya Allah yang Maha Besar. Saat ini terjadi terbilang beberapa tahun yang lalu, sungguh pedih rasanya. Lama berselang, saat teringat masih saja hati terasa sangat pedih. Hanya Istighfar saja yang mampu menenangkan dan membuat saya tetap tegak mengangkat kepala sambil terus berusaha konsisten bikin kue.

Secara tidak sengaja, kesenangan saya memasak dan membuat kue ini saya dapatkan dari jadwal mingguan saya sowan ke Dalem Sleko, rumah nenek saya. Bapak saya adalah satu-satunya dari kelima putra beliau yang tinggal di Madiun. Otomatis saya dan adik-adik saya adalah cucu yang paling sering mengunjungi beliau. Kebetulan karena saya satu-satunya cucu perempuan dan selalu excited kalau diajak membantu beliau melakukan hobinya. Baik itu bikin kue, memasak ataupun merajut. Unuk menjahit saya angkat tangan deh. Memasak dan membuat kue inilah yang akhirnya saya juga gemari bahkan sampai sekarang setelah saya dewasa.

Kuliah dan pindah ke Jogja, saya ndherek di rumahnya Oom Fuad, adik Bapak yang termuda. Istri beliau, Tante Andri adalah orang yang menyenangkan. Suatu hari di bulan Ramadhan, Tante memberanikan diri untuk menerima pesanan kue kering dan proses pembuatannya dibantu oleh saya dan sepupu-sepupu saya. Sistem kejar tayang tetap tidak mengurangi kesenangan kami membuat kue. Setelah saya tinggalkan untuk bekerja di Kalimantan Selatan (Martapura), alhamdulillah rintisan Tante semakin berkembang.

Memulai usaha kue ini ternyata telah menjadi penyelamat hidup keluarga kecil kami. Dari situ dan karena suami yang kena PHK, saya memutuskan untuk lebih serius lagi berproduksi dan menjual kue maupun masakan yang saya buat. Meskipun sebenarnya saya sudah memulai ini sejak Asma baru lahir pada 2012 yang lalu. Asma yang punya jadwal cukup tertib membuat saya 'kurang kerjaan' kalau dia sendang terlelap.

Satu hal yang saya pegang betul sebagai seorang penjual kue, saya tidak akan menjual sesuatu yang saya sendiri tidak mau memakannya. Artinya, saya hanya menggunakan bahan-bahan yang halal dan baik untuk setiap tahap produksi kue saya. Tidak jarang, bahan-bahan ini harus dibeli dari tempat yang jauh (Banjarmasin, Banjarbaru bahkan Jakarta) hanya sekedar untuk mengejar label halal. Ini pula yang membuat hampir semua kue saya harganya di atas rata-rata harga di Pelaihari.

Masalah harga ini yang selalu membuat saya bingung karena di sini semua sungguh sangat murah, bahkan seperti diluar nalar saya. Misal kue ukuran 22cm siram cokelat full bisa dijual seharga Rp. 75.000 - Rp. 100.000 padahal saya pakai butter cream saja tidak mampu menjual lebih rendah dari Rp.. 200.000. Mungkin ketidaksesuaian harga ini pula yang membuat usaha saya kurang cepat berkembang. Ataukah saya membidik pasar yang kurang tepat, mengingat beberapa penjual dengan harga hampir sama dengan saya tetap ada pelanggannya.

Tentang harga ini saya serbasalah bahkan serbasakit. Bagaimana tidak, sebagai contoh ada sebuah perusahaan yang telah menjadi pelanggan, suatu kali dari frekuensi order yang memang tidak terlalu tinggi mendadak menjadi hampir hilang sama sekali. Rupanya, ada pihak yang bersengaja menjegal orderan saya, bahkan mendatangi atasan department pemesan kue untuk membatalkan pesanannya pada saya dengan alasan mahal.

Sayapun pernah menyaksikannya sendiri lho betapa oknum ini sangat membenci saya dan produk saya sehingga melakukan pemaksaan di depan mata saya supaya pesanan dibatalkan. Akhirnya pesanan batal dengan alasan sungkan pada si penghasut yang terlihat ngotot itu. Tidak hanya sekali, hal ini terjadi beberapa kali, bahkan pernah pada order yang sudah final dan dilakukan pembelanjaan. Syukurnya proses mencicil pembuatan belun dilakukan sehingga saya terhindar dari kerugian yang cukup besar. Astaghfirullah, semoga saya dijauhkan dari su'udzan, lebih-lebih kepada ketentuan Allah SWT.

Sampai dengan tulisan ini dibuat saya masih sangat sakit hati meskipun saya yakin rizki tidak akan tertukar. Pesanan dari perusahaan tersebut alhamdulillah tetap ada. Konon dari beberapa yang memesan mengatakan hal yang serupa bahwa mereka dicemberuti oleh si oknum itu, bahkan dia sampai tidak mau memakan kuenya.

Dikatakan mahal di depan mata tentu sudah sering saya alami karena memang kue-kue saya berharga di atas rata-rata. Namun menyaksikan orang menghasut supaya tidak membeli kue di tempat saya tentu tak terhingga sedih dan marahnya bukan??

Bagaimanapun, saya bertekad untuk terus berupaya yang terbaik karena hasilnya pasti akan sejalan dengan upaya yang dicurahkan. Jika tidak sekarang, saya yakin suatu hari nanti pasti akan terjadi.

***