Monday, August 29, 2016

Old to Be New

Hanya ingin menyimpan polah si Gendhuk di blog. Ini tentang mesin jahit baru yang kemarin dibeli.



Suatu kali ipar saya mendapat tugas mengawal anak muridnya karyawisata ke Bali. Tak dinyana, sepulang dari Bali saya dibawakan sebuah daster berbahan shantung dengan potongan umbrella. Sedangkan Gendhuk mendapat sebuah rok dan sebuah short batik khas Bali. Sedaaaap sekali dipakai. Saking sedapnya, itu daster menyandang status 'Mbah Ringgo' alias Diumbah - Garing - Dianggo (cuci-kering-pakai). Akhirnya bolong deh keteknya, bolong juga merambat ke bagian-bagian lain. Belum lagi potongan bawahnya yang lebar bak payung membuat dia hampir selalu terinjak atau terduduki sehingga membuat bagian atasnya tertarik dan robek.

Normalnya, jika sudah tak layak pastilah jadi kain pel. Namun karna sayang, akhirnya simbok putar otak. Daster dipotong di dadanya, dibuat keliman lebar untuk memasukkan pita. Jadilah 'Pillowcase' dress ala ala simbok dari payung genit bagian bawah daster. Berdayaguna pulalah Mas Janome yang kinyis-kinyis di pojokan.

Si Gendhuk yang Excited mencoba dress baru meski masih berbaju lengkap
Setelah ini jahit apa lagi ya....?








Monday, December 7, 2015

Skotel Potong (Slice Mac & Cheese) versi Ekonomis.

Sayang sekali yang satu ini belum ada fotonya. Namun, tidak mengurangi tekad untuk berbagi dan sekaligus dokumentasi resep, maka post ini saya tulis di blog yang sudah penuh sarang laba-laba ini (saking jarangnya dibuka).
Skotel Potong Siap Dijadikan Pengisi Snack Box

Setiap orderan snack box datang dalam jumlah hari yang lebih dari 2 hari berturut-turut dalam satu order, saya hampir selalu bingung menyiapkan snack asin nya. Mungkin ini kebingungan pemula saja ya. Dengan segala keterbatasan saya, saat ini saya coba berbagi, siapa tahu bisa membantu sesama pemula di luar sana terutama untuk ide snack asin. Dibanding Macaroni Schotel harganya yang ekonomis, membuatnya praktis dan jadinya lumayan banyak membuat snack ini cocok untuk jadi dagangan bakul kue. Resep saya tanpa kaldu instan atau tambahan MSG apapun ya... Silakan saja jika anda memilih menggunakannya.

Skotel Potong (Mac & Cheese) versi Ekonomis

Resep : Afifah

Bahan-bahan
400 gr makaroni elbow
Air secukupnya untuk merebus makaroni
Minyak goreng

4 sdm margarin
7 siung bawang merah iris (boleh diganti atau ditambahkan dengan bawang bombay cincang 1 buah)
150 gr daging ayam potong dadu kecil
250 gr wortel potong dadu kecil
3 btg sosis sapi potong dadu kecil
108 gr susu bubuk
1 lt air (Jika menggunakan susu cair mis. Ultra, skip penggunaan susu bubuk. Sisihkan sebagian untuk melarutkan tepung terigu).
200 gr tepung terigu
100 gr keju parut (parut, sisihkan 25 gr)
4 btr telur
Garam
Gula Pasir
Pala bubuk (pala diparut)
Lada putih bubuk

Cara Membuat
  • Rebus makaroni hingga matang namun jangan terlalu lunak. Tiriskan, beri sedikit minyak goreng agar tidak lengket. Siapkan loyang uk 25*30*4 cm, lapisi dengan kertas roti & oles margarin.
  • Dalam wajan atau panci, lelehkan margarin, masukkan bawang iris, tumis hingga layu dan harum. Masukkan daging ayam dan wortel, tumis sampai ayam berubah warna.
  • Masukkan susu bubuk dan sebagian air, masak sampai wortel setengah matang. Tambahkan sisa air, 25 gr keju parut dan larutan terigu, bumbui dengan garam, gula, lada dan pala. Masukkan makaroni rebus, aduk rata, matikan api.
  • Masukkan telur, aduk rata, tuang ke dalam loyang, ratakan dan taburi sisa keju parut. Panaskan oven 180 derajat. Panggang sampai matang sekitar 30 - 45 menit tergantung ovennya. Bisa lakukan tes tusuk, tusuk sate yang digunakan tetap akan ada adonan yang menempel, cicipi, jika sudah kalis saat disentuh dan tidak terasa amis lagi maka skotel sudah matang.
  • Tunggu hangat, balikkan di atas loyang, biarkan dingin lalu potong-potong. Jika terlalu panas maka skotel akan ambyar saat dipotong. Hidangkan dg sambal botol/siap diisikan ke box untuk snack. Satu resep bisa dipotong menjadi 35 sampai 40 potong sesuai selera.
==> Update : Makaroni dapat diganti dengan Mi kriting atau Bihun. Jika dibalur dengan tepung panir dan digoreng juga sedap.

Tuesday, September 1, 2015

One That We (I) Can't Live Without

Belakangan marak tulisan yang beredar khususnya tentang gaya hidup yang menyerukan berbagai hal. Mulai dari himbauan anti rokok, anti junk food, anti hutang bahkan sampai anti miskin. Anti-anti yang lain termasuk anti nonton TV yang konon dikatakan oleh banyak 'ahli' sebagai perusak generasi nomor satu.

Banyak di antara anti-anti itu yang telah berhasil saya praktekkan, atau saat ini sedang saya usahakan untuk terwujud. Namun satu hal yang sepertinya saya tak mampu meninggalkannya yaitu the all mighty INTERNET. Hayoooo pada ngaku, siapa yang mampu lawan internet? Bisakah hidup kita jauh dari internet dan segala hal yang berkaitan dengannya?

Internet atau interconnection networking bahasa Indonesianya kurang lebih jaringan antar koneksi atau antar hubungan. Jaringan komputer  yang saling terhubung inilah yang kita kenal sebagai internet. Silakan browsing link-link tersebut ya.

Sebenarnya saya bukan ingin membahas internet, alih-alih saya hanya ingin berbagi apa-apa saya yang selalu saya lakukan selama ini di jaringan maha sakti ini. Saya mengenalnya sejak masih belia, akrabnya saya dengan MTV dan saluran televisi luar sejenis yang saat itu ditangkap lewat parabola yang dipasang oleh bapak di rumah. Internet yang saat itu masih diakses dengan dial up saya kenal bersamaan dengan telex dan fax yang biasa dipergunakan untuk mengirim berita (bapak saya jurnalis, menggunakan fasilitas tersebut untuk mengirim berita). VSat adalah istilah canggih selanjutnya yang saya kenal setelah magang di sebuah kantor berita pada akhir masa kuliah saya - sama juga, dipergunakan untuk mengirim berita real time. Setelah bekerja di sebuah perusahaan tambang di pinggiran Kalimantan Selatan, VSat ini dipergunakan untuk sambungan telepon, intranet dan lagi-lagi internet.

Sepanjang saya hidup, setelah kuliah saya mulai dekat dan akhirnya bersahabat dengan salah seorang teman sekelas saya. Dialah yang awalnya membawa MIRC ke dalam hidup saya. Fasilitas ngobrol atau chat room yang satu ini rada jadul, dengan tampilan layar hitam pekat dan tulisan yang bisa diganti-ganti warnanya. Dari situ saya dapat banyak teman, meskipun tidak ada yang sampai bertahan lama. Masih tentang chatting, ada YM atau Yahoo Messenger yang ini masih  saya gunakan sampai sekarang.

Saya sempat pula bekerja sebagai content contributor dan editor untuk sebuah web komunitas. band1t.com namanya. Saat saya masih bergabung di dalamnya, web ini sempat booming di Jogja, dan menjadi komunitas online yang cukup dikenal bahkan bekerjasama dengan sebuah radio. Slot siaran mingguan ini biasa menghadirkan tamu band lokal, music chart, highlight liputan yang tayang di webnya dan sebagainya. Bergabungnya saya dengan web ini membuat saya masuk ke dunia lain, dunia kreatif dan hiburan di Jogja. Iyalah, wong yang punya konon Mas Sabrang Letto. Sekarang band1t sepertinya sudah tidak ada lagi, kecuali web lain yang masih dalam satu keluarga yaitu www.padhangmbulan.com maupun www.caknun.com. Sungguh suatu kehormatan bisa mengenal dan menjadi bagian kecil dari komunitas sebesar itu.

Ini dia profil Cookpad saya

Kembali ke dunia nyata, hari ini saya menggunakan internet mostly untuk mencari inspirasi (baca : nyontek resep masakan & kue orang *tutupmukapakewajan). Selain itu juga untuk nyampah di blog berbagi inspirasi. Diantaranya saya bergabung dengan beberapa medsos, karena sekarang suka masak dan bikin kue, ya medsos cooking lah ya yang disatronin. Disamping itu, saya juga join milis bakul kue alias culinary entrepreneur paling hot se Indonesia yaitu NCC alias Natural Cooking Club.
Kering Kentang Yang Termasyur

Selain di dua tempat itu, saya juga punya lapak di tokopedia. Mari-mari pada belanja di lapak saya.... >_<

Awal saya buka lapak di sana sempat shock, karena saat say browsing ternyata salah satu foto hasil karya saya mejeng di lapak orang lain alias dipinjam tanpa ijin. Jujur sampai saat ini saya masih tidak memahami perasaan saya yang terdalam, jjiiaaahh!!! Apakah saya harus sedih dan marah karena penggunaan tanpa ijin ini ataukah saya harus hepi karena foto asal saya yang super plain itu ditaksir dan ditempel di lapak orang lain. Sempat saya share ini ke milis NCC, dan satu respon yang diberikan oleh seorang anggota, yang juga menyuarakan pikiran saya, bahwa semakin plain (sederhana) fotonya, maka semakin tampak homemade lah produk itu. Hahahahahha. Pelajarannya, jangan malas kasih watermark ya!!!

Not to mention blog ini, dapurnaila.blogspot.com yang meski nampak sepi dari komen dan kunjungan tapi ternyata telah berhasil membuat saya punya pelanggan dari beberapa propinsi di luar Kalsel. Semoga nanti blog ini semakin guyub  dan pelanggan saya semakin banyak. Amiiiinnn.... 
 
Dalam perjalanan saya, banyak juga ternyata pengguna internet yang berbagi hal baik (jauuh lebih baik daripada yang saya bagi). Sering saya berkunjung ke blog milik Mbak Endang yang solusi krimcis homemadenya menyelamatkan hidup saya.-semoga menjadi jariyah. Mbak Endang menuangkan di tulisan dan karya yang menurut saya ramah sekali bagi yang tidak pintar memasak seperti saya. Kecerdasan beliau menyajikan tulisan dan step yang rinci membuat resep yang ribet sekalipun jadi terkesan mudah untuk diwujudkan. Satu lagi, beliau juga interaktif, komen yang muncul direspon dengan manis dan friendly.

Endang Indriani - Homemade Creamcheese
Gak ada yang jual krimcis? Bikin sendiri aja.

Juga ada Ibu Azlita Aziz yang humble dan telateeeeen banget bikin deco kue cantik namun sekaligus gak pelit ilmu. Karya saya tentunya gak sebanding dengan Ibu Azlita. Meski demikian, tetap saja ilmu yang dibagikan sangat berguna buat awam macam saya ini. Semoga ilmu yang dibagikan menjadi amal jariyah. 

Azlita Aziz - korean-flower-buttercream.html
Kebayang gak bikin kue canteeek macam ini...??

Untuk  Korean Food, saya suka berkunjung ke Maangchi. Beberapa resepnya sudah saya praktekkan. Terutama si Yangnyeom Tongdak ini. Sedaaaaaap....

Yangnyeom Tongdak karya Maangchi
Dan baaannyak lagi pendekar internet yang sering saya sowan ketika sedang online selain kunjungan wajib ke portal-portal berita dan kapanlagi.com. Hehehhehe....

Lagi-lagi, nampaknya himbauan para pakar untuk menjauhi internet nampak musykil, meski dengan alasan yang medioker yakni mati gaya tanpamu. Jadi, internet ditahbiskan menjadi sesuatu yang tak mungkin saya berpaling darinya. Segala sesuatu tentu ada baik dan buruknya bukan? Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Internet pun begitu, jika kita manfaatkan untuk tujuan baik tentu hasilnya juga baik (atau dalam kasus saya, hasilnya antara 2, kenyang karena berhasil mengeksekusi resep, atau ngiler karena foto-foto masakan menggugah selera).

***

Sunday, April 19, 2015

Jangan Dibeli!! Produk DN Keterlaluan Mahalnya...

Astaghfirullah..... Ampunkan semua segala kesalahan yang hamba buat ya Allah yang Maha Besar. Saat ini terjadi terbilang beberapa tahun yang lalu, sungguh pedih rasanya. Lama berselang, saat teringat masih saja hati terasa sangat pedih. Hanya Istighfar saja yang mampu menenangkan dan membuat saya tetap tegak mengangkat kepala sambil terus berusaha konsisten bikin kue.

Secara tidak sengaja, kesenangan saya memasak dan membuat kue ini saya dapatkan dari jadwal mingguan saya sowan ke Dalem Sleko, rumah nenek saya. Bapak saya adalah satu-satunya dari kelima putra beliau yang tinggal di Madiun. Otomatis saya dan adik-adik saya adalah cucu yang paling sering mengunjungi beliau. Kebetulan karena saya satu-satunya cucu perempuan dan selalu excited kalau diajak membantu beliau melakukan hobinya. Baik itu bikin kue, memasak ataupun merajut. Unuk menjahit saya angkat tangan deh. Memasak dan membuat kue inilah yang akhirnya saya juga gemari bahkan sampai sekarang setelah saya dewasa.

Kuliah dan pindah ke Jogja, saya ndherek di rumahnya Oom Fuad, adik Bapak yang termuda. Istri beliau, Tante Andri adalah orang yang menyenangkan. Suatu hari di bulan Ramadhan, Tante memberanikan diri untuk menerima pesanan kue kering dan proses pembuatannya dibantu oleh saya dan sepupu-sepupu saya. Sistem kejar tayang tetap tidak mengurangi kesenangan kami membuat kue. Setelah saya tinggalkan untuk bekerja di Kalimantan Selatan (Martapura), alhamdulillah rintisan Tante semakin berkembang.

Memulai usaha kue ini ternyata telah menjadi penyelamat hidup keluarga kecil kami. Dari situ dan karena suami yang kena PHK, saya memutuskan untuk lebih serius lagi berproduksi dan menjual kue maupun masakan yang saya buat. Meskipun sebenarnya saya sudah memulai ini sejak Asma baru lahir pada 2012 yang lalu. Asma yang punya jadwal cukup tertib membuat saya 'kurang kerjaan' kalau dia sendang terlelap.

Satu hal yang saya pegang betul sebagai seorang penjual kue, saya tidak akan menjual sesuatu yang saya sendiri tidak mau memakannya. Artinya, saya hanya menggunakan bahan-bahan yang halal dan baik untuk setiap tahap produksi kue saya. Tidak jarang, bahan-bahan ini harus dibeli dari tempat yang jauh (Banjarmasin, Banjarbaru bahkan Jakarta) hanya sekedar untuk mengejar label halal. Ini pula yang membuat hampir semua kue saya harganya di atas rata-rata harga di Pelaihari.

Masalah harga ini yang selalu membuat saya bingung karena di sini semua sungguh sangat murah, bahkan seperti diluar nalar saya. Misal kue ukuran 22cm siram cokelat full bisa dijual seharga Rp. 75.000 - Rp. 100.000 padahal saya pakai butter cream saja tidak mampu menjual lebih rendah dari Rp.. 200.000. Mungkin ketidaksesuaian harga ini pula yang membuat usaha saya kurang cepat berkembang. Ataukah saya membidik pasar yang kurang tepat, mengingat beberapa penjual dengan harga hampir sama dengan saya tetap ada pelanggannya.

Tentang harga ini saya serbasalah bahkan serbasakit. Bagaimana tidak, sebagai contoh ada sebuah perusahaan yang telah menjadi pelanggan, suatu kali dari frekuensi order yang memang tidak terlalu tinggi mendadak menjadi hampir hilang sama sekali. Rupanya, ada pihak yang bersengaja menjegal orderan saya, bahkan mendatangi atasan department pemesan kue untuk membatalkan pesanannya pada saya dengan alasan mahal.

Sayapun pernah menyaksikannya sendiri lho betapa oknum ini sangat membenci saya dan produk saya sehingga melakukan pemaksaan di depan mata saya supaya pesanan dibatalkan. Akhirnya pesanan batal dengan alasan sungkan pada si penghasut yang terlihat ngotot itu. Tidak hanya sekali, hal ini terjadi beberapa kali, bahkan pernah pada order yang sudah final dan dilakukan pembelanjaan. Syukurnya proses mencicil pembuatan belun dilakukan sehingga saya terhindar dari kerugian yang cukup besar. Astaghfirullah, semoga saya dijauhkan dari su'udzan, lebih-lebih kepada ketentuan Allah SWT.

Sampai dengan tulisan ini dibuat saya masih sangat sakit hati meskipun saya yakin rizki tidak akan tertukar. Pesanan dari perusahaan tersebut alhamdulillah tetap ada. Konon dari beberapa yang memesan mengatakan hal yang serupa bahwa mereka dicemberuti oleh si oknum itu, bahkan dia sampai tidak mau memakan kuenya.

Dikatakan mahal di depan mata tentu sudah sering saya alami karena memang kue-kue saya berharga di atas rata-rata. Namun menyaksikan orang menghasut supaya tidak membeli kue di tempat saya tentu tak terhingga sedih dan marahnya bukan??

Bagaimanapun, saya bertekad untuk terus berupaya yang terbaik karena hasilnya pasti akan sejalan dengan upaya yang dicurahkan. Jika tidak sekarang, saya yakin suatu hari nanti pasti akan terjadi.

***




Pempek Kuah Ala Bangka

Ini resep sebenarnya diikutsertakan dalam event #Homemade di laman dapurmasak pada 2014 yang lalu. Kebetulan buka blog dan baru sadar bahwa ternyata banner dah dipasang tapi resepnya gak ditulis (*tutupmukapakeserbet).

Saya adalah penyuka makanan yang asem seger semacam asinan, pempek, otak-otak, somay, bakso, batagor.... (itu sih segala dilahap!!!) Naah, pempek Bangka adalah salah satu yang cukup menyita perhatian pada saat event tersebut berlangsung. Namun sayangnya, untuk mencicipinya tentu perlu effort besar termasuk beli tiket dan menyiapkan dana sewa kamar hotel di Bangka yang pasti tidak mungkin dilakukan dalam waktu dekat. Hehehehe.....
Jeruk Kunci, foto dipinjam dari sini

Akhirnya, bikin sendiri adalah solusinya. Untuk kuah saya sempat kebingungan karena ada satu bahan di dalamnya yaitu jeruk kunci (limau, lemon cui). Ini jeruk adalah kunci dari kuah si pempek yang konon membuatnya khas. Di Kalimantan Selatan, jeruk jenis ini biasa dikenal sebagai limau dan umumnya dijadikan campuran untuk sambal terasi atau teman makan Soto Banjar. Rasanya unik, sangat kecut dengan sedikit rasa manis yang tipiiiissss sekali. Konon di Bangka ini jeruk dijadikan minuman juga.

Pempek Bangka umumnya memiliki 3 (tiga) pilihan saus yakni kuah cabe, kuah belacan (terasi) dan kuah tauco. Dan yang juga khas, pempeknya tidak digoreng seperti lazimnya pempek Palembang yang digoreng kering setelah direbus.

Baiklah, ini resep yang saya post di dapurmasak, resep pempeknya sendiri saya ambil dari NCC. Sedangkan yang saya bagi kali ini adalah kuah cabe hasil racikan sendiri.


Pempek Kuah Ala Bangka
Pempek resep NCC
Kuah resep Afifah

Bahan Pempek :
600 gr Daging Ikan Tengiri
400 gr Sagu Tani
30 gr Tepung Terigu
400 cc Air
Garam Secukupnya
Air untuk merebus Secukupnya
Minyak Goreng untuk merebus Secukupnya

Bahan Kuah Cabai:
3 buah Cabe Merah (boleh menggunakan cabe kriting atau ditambah cabe rawit jika suka pedas)
3 siung Bawang Putih
200 cc Air
300 cc Air
3 sdm Gula Pasir
1 sdt Garam
6 - 7 buah Limau Cui

Cara Membuat :

  1. Pempek. Haluskan daging ikan tengiri, campur dengan garam, aduk rata. Tambahkan air (400 cc). Masukkan tepung terigu dan tepung sagu. Aduk rata, bentuk sesuai selera.
  2. Panaskan air untuk merebus, tambahkan sedikit minyak goreng supaya pempek tidak lengket saat direbus. Boleh tambahkan garam ke dalam air rebusan. Masukkan pempek yang sudah dibentuk, rebus sampai mengapung dan matang (15 menit). Tiriskan. 
  3. Kuah Bangka. Rebus bawang putih dan cabai merah dengan 200 cc air sampai empuk (10 menit). Tiriskan, haluskan dengan cobek atau dengan blender.
  4. Rebus cabe halus bersama 300 cc air sampai mendidih, masukkan gula dan garam, biarkan susut sedikit. Angkat dari api, Setelah hangat tambahkan air perasan limau cui. Siap dihidangkan.
W1siziisijiwmtuvmdivmtmvmdmvmjevndyvodc2lzdjowniowq2zdfkmjgxowfhmtiylmpwzyjdlfsiccisimnvbnzlcnqilcityxv0by1vcmllbnqgil0swyjwiiwidgh1bwiilci3odb4il1d?sha=8d54c2fa







Monday, April 6, 2015

Bajajalanan Ka Jakarta (Part 2)

Yaaakkk, setelah menunggu sekian lama, akhirnya yang Part 2 muncul juga. Part 1 boleh dibaca disini. Sebenarnya acara ke Jakarta ini pengennya kami tidak sekedar untuk kondangan aja, tapi juga pengen sambil bawa Asma jalan-jalan. Pada akhirnya satupun tidak tercapai. Mood yang sumpek adalah yang paling patut dipersalahkan selain juga dompet yang lagi cekak. hihihihihi.....

Nampaknya memang harus diatur kembali kapan ada kelonggaran untuk bisa jalan-jalan beneran ke sana atau juga ke tempat lain.

Meski begitu, tetep ya yang ini perjalanannya menyenangkan. Terutama buat Asma karena dia bisa ketemu sepupunya si Alifta, putri dari adiknya Mas Khalid. Awalnya si Asma dan Alifta rada malu-malu, eh terus jadi malu-maluin. Hahahahah..... Mainan sepeti dikeluarin semua dan seperti yang sudah-sudah, males makan.



Sampai saat ini GTM masih membuat saya pusing. Terutama saat sedang dalam perjalanan begini. Soal makan ini sempat saya dibuat malu. Sejak dari Banjarmasin kami sudah mencoba menyuapinya, Alhamdulillah berhasil. Selama di pesawat sudah minum susu dan makan biskuit dalam jumlah yang lumayan. Biasanya kalo sudah begitu dia akan malas makan. Panjangnya perjalanan yang ditempuh dari Soetta ke Lenteng Agung membuat si genduk bosan. Akhirnya, di tengah tol dia minta makan. Mengeluh lapar padahal di tangannya masih tergenggam biskuit dan masih sambil makan. Pak sopir sampai menawarkan untuk keluar tol dulu dan makan. Malunyaaaaa...... Sampai di Lenteng Agung, boro-boro makan, lha disuruh nyusu aja males. Anakku, sungguh engkau sangat membingungkan. Akhirnya, di antara perjalanan, saya selalu membekal kotak makan yang juga tetap tidak disentuhnya padahal dia juga selalu mengeluh minta makan. Oohh sungguh perjalanan yang sangat aneh.

Kembali ke kunjungan ke rumah Alifta, kami sampai di Jakarta tanggal 13 Feb 2015 malam sekali dan akhirnya harus menggeser jadwal ke rumah Alifta ke keesokan harinya. Mempertimbangkan jarak yang ternyata setelah dijalani dengan rute yang benar, sangaaaattt dekat. Tanggal 14 Feb 2015 pagi kami berangkat, setelah koordinasi, okelah kami berangkat ke Gunung Putri karena alamatnya begitu. Eee lhadalah, ternyata salah jalan karena jadi harus jauuuuhhhh. Semestinya ternyata kami masuk ke Bojong Kulur lewat Bumi Perkemahan Cibubur saja. Yang baru kami ketahui setelah pulang dari sana.

Agak ribet karena mobil yang kami pakai sedianya adalah salah satu dari beberapa unit yang digunakan untuk antar jemput. Jadi kunjungan pertama ini sukses 10 menit dan langsung balik lagi ke Lenteng. Itupun penuh dengan telepon heboh karena mobil harus sudah kembali sesudah makan siang. Jadi agak jengkel sih karena waktu  habis di jalan, thanks to ancer-ancer yang blur dan sukses membuat kami nyasar sampe jauuuuuuuhhhhhh buanget. Ternyata Bogor dengan kecamatan Gunung Putri nya ini sungguh amat luasnya.

Di Golden Truly, Ibu sibuk beli blush on anak sibuk ngurus tasnya
Sampai lagi di Lenteng Agung, kami lanjut boyongan ke Hotel Santika - Depok, tempatnya satu lokasi dengan Golden Truly. Kami menginap semalam di sana sebelum lanjut pagi tanggal 15 Feb 2015 kondangan.  Selama nginap di sana pelayanannya seperti biasa ok. Dan hotel ini cukup memberi rasa aman pada tamunya. Hanya satu hal yang agak mengecewakan, access card yang saya dapat dari hotel tidak berfungsi dengan baik bahkan saya minta ganti sampai dua kali. Padahal tiap kartu disetting hanya bisa digunakan untuk lantai tempat kamar saja. So, kita gak bisa seenaknya naik turun. Penggantian access card yang ke dua ini yang agak dramatis. Saya dengan belanjaan yang cukup banyak (berisi makan malam, cemilan, air mineral dan sebagainya) dan saya tenteng sendiri, terjebak tidak bisa naik ke lantai kamar saya. Akses yang terbuka untuk umum adalah lobi dan gym. Saya pikir kartu saya ok, karena sebelumnya sudah diganti oleh resepsionis. Lha ternyata gak berfungsi lagi. Akhirnya saya terjebak di Gym, syukurnya ada telpon yang bisa digunakan dan saya langsung menghubungi resepsionis. Diluar insiden kartu sih lumayan lah nginep di Santika ini.
Wajah Bete Karena Pengen Liat Ikan

Kelar kondangan, siangnya kami langsung kembali ke rumah Alifta. Kali ini keluar di Bumi Perkemahan CIbubur dong, dan gak kesasar lagi. Bermainlah si Asma dan Si Alifta. Tapi dasar capek, demam lah Asma malamnya. Sudah dicoba minum parasetamol tapi tidak juga turun. Hadooohhh, berasa mau ke IGD tapi kok ya gak terlalu tinggi. Ya sudah ditahan sampai besok pagi, karena kami langsung balik ke Banjarmasin tanggal 16 Feb 2015 pagi.

Dengan kondisinya, kami masih bisa tenang karena dia paginya tumben mau makan banyak. Minta minum susu. Pas di taksi mau ke terminal Cileungsi tiba-tiba dia gelisah. Minta peluk, minta bobo, guling-guling kesana kemari akhirnya muntah. Slamet pas sudah siap tas kresek, jadi taksi si oom gak belepotan. huuufftt.... Habis itu, tiduuuurrrr nyenyak sampe pindah ke DAMRI juga gak bangun dia. Di tengah perjalanan barulah dia bangun dan langsung minta makan. Kali ini gak malu lagi, karena emaknya bawa bontotan.

Alhamdulillah selamat sampai di tujuan. Selanjutnya jalan ke mana lagi yaaaaaa

***







Tuesday, February 24, 2015

Bajajalanan Ka Jakarta (Part 1)

Capeknyaaaaa..... Luar biasa macet dan ribetnya pergi jalan-jalan ke Jakarta itu. Momen yang tidak pas karena Jakarta sedang banjir. Lebih tidak pas lagi karena kami jalan di akhir minggu, 13 - 16 Februari 2015 kemarin.

Pemandangan dari dalam bus
Awal pergi sudah tidak yakin apakah harus bertiga atau saya sendiri aja. Mengingat ini acara kawinan sepupu, putri pakdhe saya, kakaknya Bapak. Namun jika dipertimbangkan lagi kok hidup serasa hampa. Ya sudahlah, mari kita cabs bertiga. Saya, Pak Ndut dan si Gendhuk.   

Awal bermula, tiket pesawat yang mahiiilll setengah mati, jadilah kocek mengempis. Rencana ke Cisarua alias Taman Safari berubah menjadi Ragunan aja yang letaknya di pengkolan rumah Pakdhe. Rencana ke Monas (yaah sebagai anak negeri, patutlah kita napak tilas sembari merayakan kemerdekaan), shalat juga di Istiqlal. Lhaaahhh, Bapak yang naik kereta dari Ngawi malah cerita turun di stasiun Jatinegara karena stasiun Gambir dan sekitarnya banjir. Pada akhirnya, ya gak jadi lah, bubar jalan semua rencananya, wong mood mendadak raib.






Kemruyuk di Jalan Tol
 After all, kami masih tetap bersenang-senang. Meskipun menyesal kenapa kok ya dari Bandara ke rumah Pakdhe di Lenteng Agung naik taksi. Drivernya menyenangkan dan ternyata alumni Cocacola Company macam si Pak Ndut, ngobrol lah mereka sepanjang jalan. Secara provider taksi langganan ini sangat bisa diandalkan pelayanannya. Tapi macetnya itu lhoooo. Alhasil, landing jam 17.20 nyampe Lenteng Agung jam 20.30. Berapa jam kah itu???

 Pakdhe menyarankan naik bus Damri Soetta-Pasar Minggu yang tidak kami turuti, dengan alasan ingin lebih nyaman dan lebih cepat sampai. Dan pada akhirnya kami sesali setelah pas pulangnya kami memilih naik Damri Cileungsi-Soetta Kami menginap di Bojong Kulur-Bogor di rumah Tia, adiknya suami. Dalam keadaan macet lho jarak itu ditempuh hanya 2.5 jam. Itu pengemudi bus memang sangat sangar kemampuannya. Bus segede gaban bisa seolah menyusut dan menyelip diantara mobil-mobil. Tak heran Pakdhe menyarankan naik bus Damri yang sayangya tidak kami turuti.


Sukaria Dalam Damri

Tiba lebih awal di bandara, akhirnya kami klesetan di ruang tunggu sambil tiduran. Norak yaaaa.....